Kali Tambak Lumpang Surabaya Tercemar

Kali Tambak Lumpang Surabaya Tercemar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sudah lebih dari lima tahun terakhir, warga di sekitar Tambak Pring, Asemrowo, Surabaya terancam bencana banjir.

Ancaman banjir ini, disebabkan tidak berfungsinya aliran sungai atau kali yang ada diantara wilayah Tambak Pring, Asemrowo dan Tambak Lumpang, Sukomanunggal, Surabaya.

Dari pantauan dilokasi, kondisi tercemarnya Kali Tambak Lumpang itu, sebagian besar disebabkan limbah dari sampah rumah tangga dan beberapa aktifitas usaha yang dilakukan warga di sekitar lokasi.

Ismail Warga Tambak Pring mengatakan, akibat sampah di kali sekitar tempat tinggalnya itu, kalau musim hujan tiba, beberapa rumah warga pasti kebajiran.

“Baru satu jam hujan, kampung kami pasti kebanjiran dan air menggenang sampai beberapa hari. Kami butuh perhatian Walikota Surabaya yang katanya peduli lingkungan, tapi kenyataannya kampung kami dibiarkan seperti ini, tanpa ada solusi pasti untuk aliran air kalinya,” keluh Ismail, Minggu (24/06/2018).

Menurut Ismail, dirinya juga sudah berusaha berkoordinasi dengan pengurus kampung, tapi juga tidak ada tanggapan yang jelas. “Semua terlihat lepas tangan, padahal lingkungan di sekitar kampung kami sudah mulai padat penduduk dan perumahannya. Kalau sampai dibiarkan, maka sudah bisa dipastikan, banjir dan beragam penyakit akan mengancam kami,” paparnya.

Kata Ismail, harusnya air kali yang ada di wilayah Tambak Pring dan Tambak Lumpang bisa mengalir sampai ke kali yang mengarah ke Tanjungsari, tapi sekarang ini hanya menggenang di wilayah Tambak Pring tanpa ada solusi.

Dengan kondisi yang ada, Ismail berupaya melaporkan semua hasil temuannya ke Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia, untuk bisa dibantu difasilitasi, agar segera ada penanganan yang jelas dan tegas dari Pemerintah Kota Surabaya.

Sementara menyikapi temuan yang disampaikan warga Tambak Pring, Teguh Ardi Srianto Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia mengatakan, akan segera menindaklanjuti temuan itu.

Menurut Teguh, wilayah di Tambak Pring dan Tambak Lumpang itu, di tahun 1980-1990-an akhir sebagian besar merupakan wilayah tambak udang, bandeng dan mujair.

“Dulu wilayah itu memang tambak, tapi seiring berkembangnya zaman, sekarang sudah padat perumahan dan penduduk, jadi perlu ada solusi yang baik, untuk persoalan drainase limbah yang dihasilkan warga,” jelas Teguh.

Teguh mengatakan, kasus di Tambak Pring dan Tambak Lumpang, merupakan contoh nyata, kalau pembangunan tidak diikuti dengan kepedulian pada dampak lingkungan alias asal bangun dan urusan limbah dipikir belakangan.

“Kalau pemerintah punya konsep yang jelas dan tegas, maka tidak akan sampai terjadi kasus pencemaran yang memalukan ini. Surabaya khan Kota Adipura Kencana, malu khan kalau ternyata masih ada wilayahnya yang sangat ironis,” tegas Teguh Ardi Srianto Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia. [KJPL]

Berita Lainnya

Leave a Comment